Paradigma Shalat dalam Hubungan Ibu dan Anak March 20, 2008
Posted by nanonina in kajian.trackback
Ketika kita berbicara tentang kasih sayang, maka kasih sayang manakah yang melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya di muka bumi ini? Kasih sayang ibu kepada anaknya adalah sebuah contoh yang jelas bagaimana sesungguhnya Allah menyayangi kita orang-orang yang beriman kepada Allah.
Kasih sayang antara ibu dan anaknya adalah hal yang terpenting dalam pertumbuhan seorang anak dengan segenap informasi yang telah diberikan sang ibu kepada anaknya.
Begitu kuatnya interaksi antara ibu dan anak membentuk karakter hidup sang anak sehingga Rasul pun mengeluarkan sebuah pernyataan bahwa ibu adalah madrasah pertama sejak kelahiran sang anak di muka bumi ini.
Perkataan madrasah pertama itu merupakan sebuah statement dari Rasul, bahwa bagaimana seorang ibu mendidik anaknya maka akan seperti itulah anak itu tumbuh dan jadinya.
Bila sang anak dibesarkan oleh madrasah emosi maka, anak itu akan tumbuh, hidup dan berpola pikir emosional, bila sang anak dibesarkan oleh madrasah ratio maka sang anak akan menjadi anak yang rational.
Ada dua jenis madrasah yang ada di muka bumi ini, yaitu madrasah Allah dan madarasah selain Allah. Madrasah Allah adalah madrasah dimana pembelajarannya adalah untuk semakin dekatnya sang manusia yang fitrah itu kepada Sang Khaliknya, adapun madrasah selain Allah adalah madrasah yang pembelajarannya adalah bagaimana untuk mempunyai perasaan kepemilikan yang tinggi, otomatis ketika anak dididik untuk memiliki rasa kepemilikan yang tinggi maka ia akan semakin jauh dari Allah, kecuali rasa kepemilikan satu-satunya adalah Allah.
Arus Informasi
Perlu kita sadari bahwa manusia dibentuk dan membentuk adalah berdasarkan informasi yang ia terima dari lingkungan dimana ia dibesarkan. Anak adalah apa yang diajarkan oleh manusia yang pertama dikenalnya yaitu ibunya.
Kita dapat berfikir untuk mencari suami yang sudah mapan secara ekonomi adalah berdasarkan informasi yang masuk kedalam otak kita dari mulai kita kecil sampai dewasa saat ini, akhirnya ketika ada seorang laki laki yang mau melamar kita atau hendak memperistri kita maka pertanyaan yang pertama keluar dari mulut kita adalah “Dimana mas berkerja?” atau “Berapa penghasilan mas perbulan?”, tidak dipungkiri bahwa ketakutan akan beratnya kehidupan ini adalah disebabkan oleh ketidakmampuan ekonomi sebuah rumah tangga, padahal apakah itu adalah kriteria seorang suami yang baik menurut Allah?
Allah berfirman dalam salah satu ayat Al-Qur’an bahwa kriteria suami yang baik adalah, laki-laki yang bertaqwa, laki-laki yang selalu membawa keluarganya ke jalan Allah bukannya laki-laki yang memberikan uang sekian juta setiap bulannya.
Keadaan manusia dibentuk oleh arus informasi yang masuk kedalam otaknya dari mulai bayi sampai dewasa, begitu pula anak anak kita yang dibentuk oleh ke glamouran duniawi akan menjadi orang yang selalu mencintai kehidupan dunia beserta segala fenomenanya sehingga ketika kita mati, mereka akan kebingungan bagaimana melangkah dalam kehidupan yang memuat seribu satu macam masalah dan fenomena ini. Anak yang dibesarkan dengan serba kecukupan tidak akan mampu untuk menjalani kehidupan yang serba kekurangan, padahal dunia ini selalu dihiasi oleh kekurangan dimana-mana, maka akhirnya kita akan menemukan anak kita kolaps dalam kehidupannya ketika kita mati, kematian kita menjadi kematian pula bagi jiwa anak yang selama ini tidak mampu untuk mengakui bahwa hidup ini butuh perjuangan. Itulah contoh dari madrasah yang selain Allah.
Ada sebuah perkataan orangtua dulu bahwa bagaimana sebenarnya perempuan yang akan kita nikahi, lihat bagaimana ibunya. Perkataan bijak dari orangtua dulu sangatlah sesuai dengan apa apa yang kita temukan pada kehidupan ini, bahkan Al-Qur’an telah berbicara lebih jauh tentang semua ini, dapat kita baca dalam surah At-Takatsur,
bahwa apakah akibatnya dari kehidupan anak manusia yang selalu diberikan semua maunya neraka Naar.
***
Shalat
Shalat adalah madrasah dari Allah yang konkrit. Allah menjelaskan dalam shalat itu tentang bagaimana sebenarnya cara untuk mendidik anak dan ibunya sekaligus pada sebuah Event kehidupan ibu dan anak.
I. Niat
Niat memegang peranan penting, bahkan dalam salah satu hadits Rasul bahwa shalat tanpa niat akan dianggap batal, seperti itu juga jika kehadiran anak kita tanpa didasari oleh niat karena Allah untuk mendidik anak itu menjadi milik Allah sepenuhnya, maka pada perkembangannya ia akan menjadi selain Allah, siapa saja milik Allah itu? Bisa jadi milik bapak, ibu, teman, sekolahnya, guru-gurunya, bahkan pembantunya, singkatnya ia akan menjadi hamba dunia.
Ibu dan bapak yang pada awal pemeliharaan anak, bila tanpa niat dididik kepada Allah maka anak itu bisa jadi disebut anak tidak diharapkan oleh kedua orangtuanya, karena tidak ada harapan apa-apa ketika anak itu lahir di muka bumi, sebaliknya bila anak itu ketika proses kehamilannya, persalinannya sampai lahir dan ketika kita mendidiknya memang untuk dikembalikan kepada Allah maka anak itu akan menjadi anak yang menyadari fungsinya sebagai anak, dan berakhlak sesuai dengan harapan orangtuanya, sudah barang tentu sesuai dengan kehendak Allah.
II. Wudhu
Wudhu atau bersuci, artinya bahwa di dalam kehidupan anak dan ibunya haruslah senantiasa mensucikan Allah. Suci dalam bahasa Al-Qur’an adalah Subhanallah yang artinya Maha Suci Allah, dengan asal kata Sabaha yang artinya berenang.
Sebagaimana layaknya orang yang berenang maka kita haruslah bersentuhan dengan air. Berenang tidak berarti diam tapi aktif dan dinamis. Inilah kunci dasar sahnya pengajaran atau madrasah Allah.
Setiap ibu yang ingin mendidik anaknya dengan baik maka ia haruslah mengenal karakter anak itu sendiri, ibu harus bersentuhan dengan jiwa anak itu. Untuk dapat memasuki jiwa untuk mengenal karakter sang anak, ibu haruslah dapat memainkan peranan tidak hanya menjadi seorang ibu yang melahirkan anak itu namun lebih jauh, ibu haruslah menjadi teman, sahabat, guru, ustadzah, dan sekaligus panutannya.
III. Takbiratul Ihram
Dalam proses pengajaran antara ibu dan anak, kata “Allahu akbar” merupakan sebuah kata kunci dalam mengartikan setiap pelajaran yang ada, contohnya : ketika kita mengajarkan anak kita ilmu alam, maka ilmu alam itu haruslah membuat anak semakin menyadari penciptaan Allah yang demikian hebat dan sempurna, ketika kita mengajarkan ilmu bahasa kepada anak, maka anak itu semakin menyadari bahwa kata-kata itu adalah hal terpenting yang harus ia jaga, dan juga pada ilmu-ilmu lainnya.
Madrasah yang selalu mengakbarkan Allah dalam setiap pelajarannya, akan membuat atmosferik Illahi yang mengelilingi sang ibu dan anak sehingga pada fase tersebut tidak hanya sang anak yang belajar pada ibunya namun yang lebih penting sang ibu yang belajar dari anaknya itu, karena anak itu adalah cermin ibunya seperti Hajar aswad yang selalu menempel pada sudut Ka’bah, bening seperti cermin bagi orang yang melihatnya.
IV. Tegak
Posisi tegak yang merupakan awal permulaan shalat merupakan kunci pembuka (Al-Fatihah), diterjemahkan ke dalam kegiatan ibu dan anak, adalah bagaimana seorang anak akan tegak bila sang ibu tidak tegak lebih dulu. Fungsi Aqim atau tegak ini diwakili oleh Nabi Ibrahim. Ada saatnya ibu mengajari anaknya dengan lemah lembut seperti Siti Hajar dan ada saatnya pula sang anak diajarkan seperti cara Ibrahim mendidik Ismail dengan penuh ketegasan, tidak mungkin ada ketegakan tanpa adanya disiplin yang tegas.
V. Ruku
Ruku adalah lambang melihat lebih dalam, yang bernama Empati. Empati sangat memegang peranan vital pada proses pembelajaran anak dan ibunya, jika sang ibu tidak mengajarkan anaknya untuk memiliki jiwa empati maka anaknya akan besar dengan jiwa Arogansi dan Agresi, bahkan bila kedua jiwa itu terus dipupuk maka tidak kecil kemungkinan kedua orangtuanya akan menjadi sasaran Agresinya ketika sang ibu sudah dianggap tidak berdaya, akibatnya banyak sekali anak-anak yang merongrong orangtuanya ketika sudah dewasa bahkan ditunggu-tunggu kapan matinya orangtua untuk mendapatkan harta warisannya.
Empati yang dilambangkan oleh Ismail adalah sebuah pelajaran terapan bagaimana kita untuk membiasakan diri kita dan anak kita saling berbagi kepada orang lain, jiwa Empati akan melahirkan sifat cinta kepada semua makhluk ciptaan Allah. Sehingga anak yang dibesarkan dengan Empati, dia pun akan belajar untuk menghargai dirinya dan orang lain, ketika ia menghargai dirinya maka ia akan menghargai kedua orangtuanya, ketika ia menghargai orangtuanya maka ia pun akan menghargai penciptanya pula yaitu Allah ta’ala.
VI. Sujud
Sujud merupakan keadaan dimana kepala kita sedang berada dekat sekali dengan tanah sehingga terdapat dua kaitan sujud dengan pendidikan ibu dan anak yaitu dalam sebuah pendidikan ibu dan anak haruslah membuat sebuah pola pikir Illahi, dimana anak dan ibu diajarkan untuk dapat memfokuskan segenap pikirannya atas semua kejadian yang ada dalam hidup ini sebagai ayat-ayat Allah yang hidup.
Tanah, tanah mengandung unsur menumbuhkan, sesuatu akan tumbuh dengan baik bila dirawat dengan baik, sesuatu akan dirawat dengan baik bila ada kasih sayang pada yang merawatnya maupun yang dirawatnya. Tanah yang penuh dangan kasih sayang (subur) akan menumbuhkan dengan baik bibit yang mau berkasih sayang dengan tanah itu (bibit yang baik), sehingga tidak mungkin tanah yang baik akan membuat bibit yang buruk tumbuh dengan subur, dan sebaliknya bibit yang baik tidak akan tumbuh bila tanahnya gersang.
Hubungan sujud dan tanah ini akan membuat sebuah pola pikir Rahman Rahim (berkasih sayang) antara ibu dan anak, sehingga ibu dan anak akan dapat menyelesaikan setiap permasalahan dalam belajar mengajar diselesaikan dengan mudah. Dengan cinta kasih sayang. Efeknya bila ibu dan anak belajar dan mengajar dengan penuh kasih sayang, mereka akan mudah mengatasi setiap permasalahan kehidupan ini dengan Kasih sayang karena tidak ada satu pun manusia dan makhluk di dunia ini yang tidak suka disayangi.
Sifat Rahman Rahim ini dilambangkan oleh Ka’bah yang memiliki enam sisi sebagai lambang integral dan Flexibelitas, dapat masuk ke dalam setiap lini kehidupan.
VII. Duduk Di Antara Dua Sujud
Duduk di antara dua sujud adalah lambang dari Instropeksi dan Evaluasi, Instropeksi berarti melihat ke dalam, apakah kesalahan dan kekurangan kita dalam mengajar anak kita, sedang Evaluasi adalah keadaan dimana kita berdiskusi dengan anak kita untuk memahami lebih jauh apakah hal-hal yang kita sampaikan kepada anak kita dapat dimengerti dengan mudah dan mudah diterapkan, bila tidak maka pastilah ada yang salah dalam penyampaian kita pada anak, mungkin ada keegoan yang tanpa kita sadari ketika penyampaian kita pada anak kita, atau kearogansian orangtua yang terjadi pada saat proses belajar mengajar dan lainnya. Dalam paradigma Ka’bah instropeksi dilambangkan oleh pintu Multazam sedangkan evaluasi dilambangkan oleh jarak yang terputus antara Hijir Ismail dengan Ka’bah itu sendiri.
VII. Salam
Salam merupakan saat dimana kita berlatih untuk memahami keadaan setiap orang dengan selalu memperhatikan keadaan sekeliling, proses pembelajaran yang benar adalah proses pembelajaran yang universal dan dapat diterapkan dalam kehidupan sosial sehari-hari. Oleh karena itu bila dalam proses pembelajaran ibu dan anak malah membuat keduanya semakin merasa sulit membaur dengan keadaan sekeliling atau Exclusive , maka proses pembelajaran itu dapat dianggap tidak berhasil karena ujung dari proses pembelajaran itu adalah bagaimana sang ibu dan anak dapat menerapkan kegiatan belajar dan mengajar itu dalam kehidupan sehari-hari.
Shalat pada akhirnya merupakan sebuah keadaan dimana pelakunya menjadi aktif dan dinamis secara dzahir maupun bathin. Shalat akan menumbuhkan Atmosferik kasih sayang dalam proses belajar mengajar ibu dan anaknya, karena tidaklah kita perlu untuk berlaku berlebihan dalam menjaga anak kita, sedang kita sendiri saja belum tentu mampu menjaga diri kita, tapi jagalah Allah dalam diri kita maka Allah akan mejaga keluarga kita.
Semoga semua ini dapat mudah dipahami dan diterapkan, kita sadari bahwa jika kita mau untuk berjalan sesuai dengan jalan Allah tentulah Al-Qur’an yang menjadi dasar setiap aktifitas kita, dan kita sadari pula bila selama ini kita tidak memakai Al-Qur’an sebagai dasar berpijak kita dalam setiap hal, pastilah bukan Allah tujuan kita.
***
Sabar
Shalat dan sabar merupakan sebuah kesatuan yang utuh, apalagi dalam proses interaksi ibu dan anak. Kesabaran yang berlangsung terus akan membuahkan hasil yang lebih baik ketimbang kesabaran yang tidak berkesinambungan. Kata sabar tidak hanya mengandung arti siap menerima kesalahan anak dan memperbaikinya dengan penuh kasih sayang, tapi makna sabar yang lebih dalam adalah kekuatan Istiqomah kita dalam mengantarkan anak kita untuk benar-benar siap berlayar.
Saat ini kita diibaratkan sedang membentuk sebuah kapal untuk dipakai berlayar, maka pelaut yang baik pastilah ia akan melihat sebesar apa ombak samudera yang akan menghantam kapalnya nanti, berapa besar angin yang akan menghantam tiang-tiang kapalnya nanti dan apakah bahan yang paling baik untuk membentuk kapal itu, dan semua ini membutuhkan kesabaran yang tanpa batas.
Kapal yang berlayar itu haruslah bentukan yang kokoh dan kuat, apakah yang sebenarnya membuat kapal itu kokoh dan kuat, apakah bahannya, tekhnik pembuatannya, rancangannya, atau mesinnya? Bukan. Kesabaran sang pembuatnya, kesabaran sang pembuatnya yang tiada batas itulah yang membuat kapal itu kuat dan kokoh.
Demikian pula pada proses interaksi ibu dan anaknya, kesabaran sang ibu dalam membimbing anaknya itulah yang sesungguhnya kekuatan terbesar sang anak dalam mengarungi hidupnya ini.
Ada satu pernyataan yang paling sering kita dengar dalam pendidikan bahwa satu prilaku keseharian kita yang akan banyak mengajarkan anak kita, ketimbang seribu suara yang keluar dari mulut kita. Wallahu a’lam bishawab.
http://muhtarom007.multiply.com/journal/item/55/Paradigma_Shalat_dalam_Hubungan_Ibu_dan_Anak_




Comments»
No comments yet — be the first.